in

INI KELEMAHAN VIRTUAL REALITY UNTUK PELATIHAN K3

JAKARTA – Menggunakan teknologi Virtual Reality (VR) memang sudah terbukti memberikan banyak solusi untuk pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja. Mereka yang membutuhkan pelatihan di lokasi berbahaya, dengan adanya VR, sangat membantu untuk memberikan visual dan pengalaman seolah-olah berada di lokasi tersebut.

Dibalik kelebihan, tentu juga ada kelemahan ketika mengadaptasi teknologi VR untuk pelatihan. Beberapa kelemahan tersebut ada yang menyangkut tentang kesehatan dan keselamatan penggunanya seperti berikut:

Simulator sickness

Simulator sickness merupakan sejenis penyakit “mabuk” yang dikarenakan penggunaan simulator seperti VR. Ketika menggunakan VR, mata berkomunikasi dengan otak, tapi tidak dengan tubuh. Gejala simulator sickness ini meliputi pusing, berkeringat, mual, muntah, dan kelelahan. Gejala ini bisa saja tidak langsung terjadi saat itu juga. Adapun beberapa pengguna jatuh pingsan ketika sampai di rumah. Maka untuk mengurangi risiko simulator sickness, disarankan untuk tidak lebih dari 20 menit pemakaian.

Bahaya fisik

Penggunaan VR bisa menimbulkan bahaya fisik seperti menabrak meja, dinding, dan benda di sekitar. Sebaiknya pengguna diberikan jarak ruang 9 meter agar ia bebas bergerak tanpa harus bertabrakan dengan benda lain.

Masalah ergonomis

Penggunaan VR yang menitikberatkan pada kepala memungkinkan penggunanya merasa tidak nyaman dan pegal. Bahkan beberapa diantara pengguna sudah merasa tidak nyaman sejak di tiga menit pertama. Headset VR memang bisa menekan tulang belakang yang dapat menyebabkan leher kaku dan tegang. Sebagai tindakan preventif, para pengembang dan programmer mengusahakan agar penggunanya berinteraksi dengan “si objek” sejajar dengan mata dan dekat dengan tubuh. Jadi pergerakannya tidak terlalu signifikan.

Tantangan dalam mengimplementasi

Mengimplementasi teknologi VR ke dalam pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja harus didukung oleh banyak pihak. Misalnya saja programmer, pengembang, desainer grafis, dan juga pakar di bidang K3 itu sendiri. Tantangannya adalah ketika produk VR ini akan digunakan, juga harus dicoba oleh beberapa pengguna yang berbeda. Hal ini ditujukan agar pelatihan yang dilakukan dapat berguna bagi semua orang. Jadi ketika akan membuat konten keselamatan kerja, interaksi yang terjadi antara pengguna dan komputer sebaiknya didesain sesederhana mungkin.

(DS)

What do you think?

Written by Risa Praptono

INDUSTRI MANUFAKTUR PILIH VR, INI TIGA ALASANNYA

VIRTUAL REALITY, LEBIH AMAN DAN HEMAT UNTUK PELATIHAN K3?